Kamis, 19 Juni 2014

TERULANG LAGI



Disaat aku berjalan
Menuju sebuah kebaikan
Disitulah hati aku terasa berdetar-detar
Kejadian itu tidak hanya sekali
Kejadian itu terasa terulang lagi
Anehnya kejadian itu terjadi
Dan terjadi ditempat yang sama
Dengan orang yang sama
Tuhan
Pertanda apakah ini?
Dan
Berikanlah yang terbaik untukku

Minggu, 15 Juni 2014

Terakhir



Senja sore di ufuk sebelah barat yang menemaniku sore ini. Sore ini aku ada janji dengan sahabat lamaku. Kita janjian di taman sebrang komplek rumahku. Aku juga belum tahu kenapa dia mengajakku bertemu di taman. Biasanya dia selalu datang ke rumahku kalau ada hal yang penting yang ingin dia bicarakan denganku. Tapi sore ini tidak seperti biasanya. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Aku segera bergegas mengambil sepedaku di dalam bagasi.
“ma, aku berangkat dulu ya.”
“kamu mau kemana.” Jawab mama sambil menyiram tanaman.
“aku mau ke taman, aku ada janji sama Vino. Assalamualaikum.”
“waalaikumsallam. Hati-hati jangan pulang malam-malam.”
“iya ma.” Ku gayuh sepedaku sekuat mungkin.
          Lima menit kemudian aku sudah sampai di taman dan teryata Vino sudah tiba duluan. Aku parkirkan sepedaku dibawah pohon yang tak  jauh dari bangku taman yang Vino duduki. Aku menghampiri Vino. Wajah Vino terlihat pucat hari ini.
“maaf Vin, aku terlambat. Wajah kamu kok pucat, kamu tidak apa-apa kan?”
Vino pun menarik tanganku dan mempersilahkanku duduk disampingnya, “ayo duduk sini ada yang ingin aku bicarakan sama kamu.”
“mungkin ini terakhir kalinya kamu ketemu sama aku.” Sambung Vino sambil berdiri.
“hust… Enggak boeh ngomong kayak gitu. Emang kamu mau kemana.”
“nanti malam aku harus perang melawan penyakit yang bersarang di kepalaku ini. Aku tak tahu seberapa kuatnya aku melawannya. Akankah aku masih bisa menikmati senja yang indah ini bersamamu lagi Kayla.”
“terus nant…………”
“nanti malam aku harus di operasi karna kangker otakku yang semakin hari semakin parah.” Sahut Vino.
          Tak tahu kenapa air mata ini sudah mengumpul di pelupuk mata dan siap untuk jatuh. Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi mulut ini rasanya kaku hanya air mata yang saat ini berbicara. Vino mengusap air mataku sambil bilang “kamu enggak perlu nangis. Sekarang aku hanya butuh doamu, semangatmu, dan senyummu yang indah itu untuk yang terakhir kali ini saja. Karna aku belum yakin akankah aku masih diberi kesempatan lagi sama Tuhan.”
“aku mohon padamu Kayla. Jangan kau teteskan air matamu ini. Jika kau terus-terusan seperti itu, itu semua bakalan sia-sia karna air matamu tak dapat menyembuhkan penyakitku ini” Sambung Vino.
          Aku mulai berfikir dan meresapi apa yang telah Vino katakana. Benar juga apa yang dikatakan Vino. “iya vin, benar juga apa yang kamu katakan. Aku nangis sampek kapanpun ya tetep aja enggak bisa buat ngilangin penyakit kamu.”
“nah gitu senyum. Kalau senyum gitu kan jadi cantik hehe.”
“haha akukan cantiknya udah dari dulu. Baru nyadar sekarng ya?”
          Akhirnya kami bersenda gurau di taman itu. Keasikan bermain bersama sampai tak terasa kalau udah malam. Vino udah dijemput sama mamanya dan ia langsung pergi ke rumah sakit buat operasi. Aku juga pulang karna hari sudah malam, kulihat jam yang ada ditanganku teryata jam sudah menunjukkan pukul 18.30.
          Sesampai dirumah aku mendapatkan kabar bahwa Vino sudah tidak ada lagi. Nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Mendengar kabar itu rasanya kaki ini sudah tak mampu lagi untuk berdiri akupun terjatuh. Mama memelukku dan aku menangis di pundak mama. Sore  ini menjadi hari bersejarah dalam hidupku dan senja sore itu juga yang sudah menjadi saksi bahwa aku dan Vino pernah bersama dalam ikatan persahabatan. Dan persahabatan ini kamu bawa mati, aku hanya bisa mendoakanmu agar kamu tenang disana.


End..

Minggu, 18 Mei 2014

Cinta yang Sama



         Ada dua orang sahabat. Mereka sangat akrab. Semua orang sangat salut dengan persahabatan mereka. Sebut saja namanya Akbar dan Abdhi. Suatu hari saat mereka jalan-jalan mereka bertemu dengan seorang gadis cantik, manis, berkulit sawo matang. Mereka berdua tertarik dengan gadis itu. Secara diam-diam dan tidak ada yang tahu mereka mendekati gadis itu. Gadis itu bernama Bunga.
          Suatu hari dua sahabat itu berkumpul untuk membahas sebuah bisnis mereka. Disela-sela membahas permasalahan bisnis itu mereka saling curhat.
“Aku menyukai seseorang, tapi aku baru kenal sama dia.” Kata Akbar sambil malu-malu.
“Aku juga sedang mengagumi seseorang, karna bagiku dia sangat berbakat.” Sahut Abdhi.
Mereka berdua saling tidak menyebutkan nama gadis itu karna mereka tidak mau ada yang tahu sebelum mereka mendapatkan gadis itu. Mereka saling menyembunyikan nama gadis itu samapai-sampai sahabatnya pun tidak tahu.
          Perkenalan itu semakin dekat. Bunga bingung harus memilih siapa. Dua-duanya baik dan perhatian. Bunga tidak bisa memilih dua-duanya. Pada akhirnya Bunga tidak memilih mereka berdua. Bunga lebih memilih laki-laki lain yang ia sukai sejak dahulu. Akhirnya mereka tidak bisa mendapatkan Bunga. Seminggu setelah kejadian itu mereka berkumpul dengan komunitasnya. Mereka saling curhat bahwa mereka telah gagal mendapatkan gadis pujaannya. Ada seorang sahabat mereka yang bertannya, “Siapa gadis itu? Nampaknya kalian menyesal sekali.”
Akbar dan Abdhi secara serentak dan bersama menjawab pertannyaan itu, “BUNGA.” Mereka berdua nampaknya terkejut karena mereka menyukai gadis yang sama. Akhinya mereka tertawa bersama dan saling bercerita tentang kisah cintanya.
          Disaat asik-asiknya datang lagi sahabat mereka. “Cinta Tak Harus Memiliki.” Kata sahabat mereka yang tiba-tiba datang mengejutkan. Akbar dan Abdhi pun setuju dengan kata itu. Akhirnya mereka bangkit dari keterpurukan dan mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Kini mereka sekarang banyak yang mengagumi karena kepribadiaannya. Semenjak itu banyak anak gadis yang berlomba-lomba merebut perhatian dan simpatinya. Namun Akbar dan Abdhi membalasnya dengan cuek. Karna mereka tidak mau salah lagi.

End

Berakhir di Pasar



                        Setiap hari libur sekolah aku selalu membantu ibuku di pasar. Ibuku seorang penjual sayuran di pasar. Pagi itu juga aku melihat Zafran. Zafran adalah laki-laki yang pernah aku sukai sejak kecil sampai sekarang. Tapi kali ini aku melihat Zafran tidak sendirian. Ia bersama seorang gadis cantik berambut panjang, berkulit putih dengan baju merah jambunya yang menambah anggunya gadis itu. Zafran dan gadis itu melangkah menuju kesini. Mungkin mereka ingin membeli sayuran kami.
Sambil memilih sayuran Zafran menyapaku, “hai Mutia, lama tidak bertemu. Bagaimana sekolah disana, apakah menyenangkan?”
            “sangat-sangatlah menyenangkan.” Jawabku sambil tersenyum. Kemudian Zafran memperkenalkan gadis itu kepadaku.
 “oh, iya kenalkan.  Mutia ini Clara dan Clara ini Mutia.”
Clara mengulurkan tangannya dan mengatakan, “jadi kamu yang namanya Mutia. Kamu cantik sekali. Perkenalkan aku Clara.” Akupun menjabat tangannya dan berkata, “aku Mutia, teman kecilnya Zafran.”
                        Kemudian hati dan perasaan ini mulai bertanya-tanya siapakah Clara itu, apakah dia itu saudara perempuannya Zafran. Tak tahu kenapa dengan tidak sadarnya mulut ini melontarkan sebuah pertannyaan kepada Zafran.
            “siapa Clara ini, kok saya belum pernah bertemu dengannya.” Tanyaku dengan wajah bingung.
            “dia pemilik hatiku. Dia satu sekolahan  sama aku.” Jabwabnya.
            “iya mungkin kamu baru kali ini bertemu dengannya karna aku baru kali ini mengajak Clara ke pasar.” Kata Zafran sambil membayar belanjaannya.
                        Mendengar jawaban itu aku sudah tidak bisa berkata lagi. Orang yang aku sukai sejak kecil hingga sekarang sudah memiliki kekasih. Hati dan perasaan ini hancur terasa sudah tidak punya harapan lagi. Air mata ini sudah mengumpul di pelupuk mata dan siap untuk jatuh. Tapi aku harus kuat menahan ini semua. Selesai membayar belanjaannya Zafran dan Clara berpamitan dengaku.
            “kami duluaan ya.” Pamit Zafran dengan senyum manisnya.
                        Aku hanya membalasnya dengan senyuman hampa. Aku hanya dapat berdiri seperti patung dan tak tahu harus berbuat apa. Hatiku terasa aneh. Apakah aku sedang patah hati? Aku terlalu bodoh karna mulutku diam membisu, aku kehilangan keberaniaan utuk mengungkapkan kata cinta kepadamu. Semua sudah terlambat. Hanya kekecewaan yang aku alami sekarang dan perasaan itu berakhir di pasar.


End.