Ada
dua orang sahabat. Mereka sangat akrab. Semua orang sangat salut dengan
persahabatan mereka. Sebut saja namanya Akbar dan Abdhi. Suatu hari saat mereka
jalan-jalan mereka bertemu dengan seorang gadis cantik, manis, berkulit sawo matang.
Mereka berdua tertarik dengan gadis itu. Secara diam-diam dan tidak ada yang
tahu mereka mendekati gadis itu. Gadis itu bernama Bunga.
Suatu hari dua sahabat itu berkumpul
untuk membahas sebuah bisnis mereka. Disela-sela membahas permasalahan bisnis
itu mereka saling curhat.
“Aku
menyukai seseorang, tapi aku baru kenal sama dia.” Kata Akbar sambil malu-malu.
“Aku
juga sedang mengagumi seseorang, karna bagiku dia sangat berbakat.” Sahut
Abdhi.
Mereka
berdua saling tidak menyebutkan nama gadis itu karna mereka tidak mau ada yang
tahu sebelum mereka mendapatkan gadis itu. Mereka saling menyembunyikan nama
gadis itu samapai-sampai sahabatnya pun tidak tahu.
Perkenalan itu semakin dekat. Bunga
bingung harus memilih siapa. Dua-duanya baik dan perhatian. Bunga tidak bisa
memilih dua-duanya. Pada akhirnya Bunga tidak memilih mereka berdua. Bunga
lebih memilih laki-laki lain yang ia sukai sejak dahulu. Akhirnya mereka tidak
bisa mendapatkan Bunga. Seminggu setelah kejadian itu mereka berkumpul dengan
komunitasnya. Mereka saling curhat bahwa mereka telah gagal mendapatkan gadis
pujaannya. Ada seorang sahabat mereka yang bertannya, “Siapa gadis itu?
Nampaknya kalian menyesal sekali.”
Akbar
dan Abdhi secara serentak dan bersama menjawab pertannyaan itu, “BUNGA.” Mereka
berdua nampaknya terkejut karena mereka menyukai gadis yang sama. Akhinya
mereka tertawa bersama dan saling bercerita tentang kisah cintanya.
Disaat asik-asiknya datang lagi
sahabat mereka. “Cinta Tak Harus Memiliki.” Kata sahabat mereka yang tiba-tiba
datang mengejutkan. Akbar dan Abdhi pun setuju dengan kata itu. Akhirnya mereka
bangkit dari keterpurukan dan mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Kini
mereka sekarang banyak yang mengagumi karena kepribadiaannya. Semenjak itu
banyak anak gadis yang berlomba-lomba merebut perhatian dan simpatinya. Namun
Akbar dan Abdhi membalasnya dengan cuek. Karna mereka tidak mau salah lagi.
End