Setiap hari libur
sekolah aku selalu membantu ibuku di pasar. Ibuku seorang penjual sayuran di
pasar. Pagi itu juga aku melihat Zafran. Zafran adalah laki-laki yang pernah
aku sukai sejak kecil sampai sekarang. Tapi kali ini aku melihat Zafran tidak
sendirian. Ia bersama seorang gadis cantik berambut panjang, berkulit putih dengan
baju merah jambunya yang menambah anggunya gadis itu. Zafran dan gadis itu
melangkah menuju kesini. Mungkin mereka ingin membeli sayuran kami.
Sambil
memilih sayuran Zafran menyapaku, “hai Mutia, lama tidak bertemu. Bagaimana
sekolah disana, apakah menyenangkan?”
“sangat-sangatlah menyenangkan.”
Jawabku sambil tersenyum. Kemudian Zafran memperkenalkan gadis itu kepadaku.
“oh, iya kenalkan. Mutia ini Clara dan Clara ini Mutia.”
Clara
mengulurkan tangannya dan mengatakan, “jadi kamu yang namanya Mutia. Kamu
cantik sekali. Perkenalkan aku Clara.” Akupun menjabat tangannya dan berkata,
“aku Mutia, teman kecilnya Zafran.”
Kemudian hati dan
perasaan ini mulai bertanya-tanya siapakah Clara itu, apakah dia itu saudara
perempuannya Zafran. Tak tahu kenapa dengan tidak sadarnya mulut ini
melontarkan sebuah pertannyaan kepada Zafran.
“siapa Clara ini, kok saya belum
pernah bertemu dengannya.” Tanyaku dengan wajah bingung.
“dia pemilik hatiku. Dia satu
sekolahan sama aku.” Jabwabnya.
“iya mungkin kamu baru kali ini
bertemu dengannya karna aku baru kali ini mengajak Clara ke pasar.” Kata Zafran
sambil membayar belanjaannya.
Mendengar jawaban itu
aku sudah tidak bisa berkata lagi. Orang yang aku sukai sejak kecil hingga
sekarang sudah memiliki kekasih. Hati dan perasaan ini hancur terasa sudah
tidak punya harapan lagi. Air mata ini sudah mengumpul di pelupuk mata dan siap
untuk jatuh. Tapi aku harus kuat menahan ini semua. Selesai membayar
belanjaannya Zafran dan Clara berpamitan dengaku.
“kami duluaan ya.” Pamit Zafran
dengan senyum manisnya.
Aku hanya membalasnya
dengan senyuman hampa. Aku hanya dapat berdiri seperti patung dan tak tahu
harus berbuat apa. Hatiku terasa aneh. Apakah aku sedang patah hati? Aku
terlalu bodoh karna mulutku diam membisu, aku kehilangan keberaniaan utuk
mengungkapkan kata cinta kepadamu. Semua sudah terlambat. Hanya kekecewaan yang
aku alami sekarang dan perasaan itu berakhir di pasar.
End.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar