Minggu, 18 Mei 2014

Berakhir di Pasar



                        Setiap hari libur sekolah aku selalu membantu ibuku di pasar. Ibuku seorang penjual sayuran di pasar. Pagi itu juga aku melihat Zafran. Zafran adalah laki-laki yang pernah aku sukai sejak kecil sampai sekarang. Tapi kali ini aku melihat Zafran tidak sendirian. Ia bersama seorang gadis cantik berambut panjang, berkulit putih dengan baju merah jambunya yang menambah anggunya gadis itu. Zafran dan gadis itu melangkah menuju kesini. Mungkin mereka ingin membeli sayuran kami.
Sambil memilih sayuran Zafran menyapaku, “hai Mutia, lama tidak bertemu. Bagaimana sekolah disana, apakah menyenangkan?”
            “sangat-sangatlah menyenangkan.” Jawabku sambil tersenyum. Kemudian Zafran memperkenalkan gadis itu kepadaku.
 “oh, iya kenalkan.  Mutia ini Clara dan Clara ini Mutia.”
Clara mengulurkan tangannya dan mengatakan, “jadi kamu yang namanya Mutia. Kamu cantik sekali. Perkenalkan aku Clara.” Akupun menjabat tangannya dan berkata, “aku Mutia, teman kecilnya Zafran.”
                        Kemudian hati dan perasaan ini mulai bertanya-tanya siapakah Clara itu, apakah dia itu saudara perempuannya Zafran. Tak tahu kenapa dengan tidak sadarnya mulut ini melontarkan sebuah pertannyaan kepada Zafran.
            “siapa Clara ini, kok saya belum pernah bertemu dengannya.” Tanyaku dengan wajah bingung.
            “dia pemilik hatiku. Dia satu sekolahan  sama aku.” Jabwabnya.
            “iya mungkin kamu baru kali ini bertemu dengannya karna aku baru kali ini mengajak Clara ke pasar.” Kata Zafran sambil membayar belanjaannya.
                        Mendengar jawaban itu aku sudah tidak bisa berkata lagi. Orang yang aku sukai sejak kecil hingga sekarang sudah memiliki kekasih. Hati dan perasaan ini hancur terasa sudah tidak punya harapan lagi. Air mata ini sudah mengumpul di pelupuk mata dan siap untuk jatuh. Tapi aku harus kuat menahan ini semua. Selesai membayar belanjaannya Zafran dan Clara berpamitan dengaku.
            “kami duluaan ya.” Pamit Zafran dengan senyum manisnya.
                        Aku hanya membalasnya dengan senyuman hampa. Aku hanya dapat berdiri seperti patung dan tak tahu harus berbuat apa. Hatiku terasa aneh. Apakah aku sedang patah hati? Aku terlalu bodoh karna mulutku diam membisu, aku kehilangan keberaniaan utuk mengungkapkan kata cinta kepadamu. Semua sudah terlambat. Hanya kekecewaan yang aku alami sekarang dan perasaan itu berakhir di pasar.


End.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar