Minggu, 15 Juni 2014

Terakhir



Senja sore di ufuk sebelah barat yang menemaniku sore ini. Sore ini aku ada janji dengan sahabat lamaku. Kita janjian di taman sebrang komplek rumahku. Aku juga belum tahu kenapa dia mengajakku bertemu di taman. Biasanya dia selalu datang ke rumahku kalau ada hal yang penting yang ingin dia bicarakan denganku. Tapi sore ini tidak seperti biasanya. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Aku segera bergegas mengambil sepedaku di dalam bagasi.
“ma, aku berangkat dulu ya.”
“kamu mau kemana.” Jawab mama sambil menyiram tanaman.
“aku mau ke taman, aku ada janji sama Vino. Assalamualaikum.”
“waalaikumsallam. Hati-hati jangan pulang malam-malam.”
“iya ma.” Ku gayuh sepedaku sekuat mungkin.
          Lima menit kemudian aku sudah sampai di taman dan teryata Vino sudah tiba duluan. Aku parkirkan sepedaku dibawah pohon yang tak  jauh dari bangku taman yang Vino duduki. Aku menghampiri Vino. Wajah Vino terlihat pucat hari ini.
“maaf Vin, aku terlambat. Wajah kamu kok pucat, kamu tidak apa-apa kan?”
Vino pun menarik tanganku dan mempersilahkanku duduk disampingnya, “ayo duduk sini ada yang ingin aku bicarakan sama kamu.”
“mungkin ini terakhir kalinya kamu ketemu sama aku.” Sambung Vino sambil berdiri.
“hust… Enggak boeh ngomong kayak gitu. Emang kamu mau kemana.”
“nanti malam aku harus perang melawan penyakit yang bersarang di kepalaku ini. Aku tak tahu seberapa kuatnya aku melawannya. Akankah aku masih bisa menikmati senja yang indah ini bersamamu lagi Kayla.”
“terus nant…………”
“nanti malam aku harus di operasi karna kangker otakku yang semakin hari semakin parah.” Sahut Vino.
          Tak tahu kenapa air mata ini sudah mengumpul di pelupuk mata dan siap untuk jatuh. Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi mulut ini rasanya kaku hanya air mata yang saat ini berbicara. Vino mengusap air mataku sambil bilang “kamu enggak perlu nangis. Sekarang aku hanya butuh doamu, semangatmu, dan senyummu yang indah itu untuk yang terakhir kali ini saja. Karna aku belum yakin akankah aku masih diberi kesempatan lagi sama Tuhan.”
“aku mohon padamu Kayla. Jangan kau teteskan air matamu ini. Jika kau terus-terusan seperti itu, itu semua bakalan sia-sia karna air matamu tak dapat menyembuhkan penyakitku ini” Sambung Vino.
          Aku mulai berfikir dan meresapi apa yang telah Vino katakana. Benar juga apa yang dikatakan Vino. “iya vin, benar juga apa yang kamu katakan. Aku nangis sampek kapanpun ya tetep aja enggak bisa buat ngilangin penyakit kamu.”
“nah gitu senyum. Kalau senyum gitu kan jadi cantik hehe.”
“haha akukan cantiknya udah dari dulu. Baru nyadar sekarng ya?”
          Akhirnya kami bersenda gurau di taman itu. Keasikan bermain bersama sampai tak terasa kalau udah malam. Vino udah dijemput sama mamanya dan ia langsung pergi ke rumah sakit buat operasi. Aku juga pulang karna hari sudah malam, kulihat jam yang ada ditanganku teryata jam sudah menunjukkan pukul 18.30.
          Sesampai dirumah aku mendapatkan kabar bahwa Vino sudah tidak ada lagi. Nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Mendengar kabar itu rasanya kaki ini sudah tak mampu lagi untuk berdiri akupun terjatuh. Mama memelukku dan aku menangis di pundak mama. Sore  ini menjadi hari bersejarah dalam hidupku dan senja sore itu juga yang sudah menjadi saksi bahwa aku dan Vino pernah bersama dalam ikatan persahabatan. Dan persahabatan ini kamu bawa mati, aku hanya bisa mendoakanmu agar kamu tenang disana.


End..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar