Senja sore di ufuk sebelah barat yang menemaniku
sore ini. Sore ini aku ada janji dengan sahabat lamaku. Kita janjian di taman
sebrang komplek rumahku. Aku juga belum tahu kenapa dia mengajakku bertemu di
taman. Biasanya dia selalu datang ke rumahku kalau ada hal yang penting yang
ingin dia bicarakan denganku. Tapi sore ini tidak seperti biasanya. Jam sudah
menunjukkan pukul 17.00. Aku segera bergegas mengambil sepedaku di dalam
bagasi.
“ma, aku berangkat dulu ya.”
“kamu mau kemana.” Jawab mama sambil menyiram
tanaman.
“aku mau ke taman, aku ada janji sama Vino.
Assalamualaikum.”
“waalaikumsallam. Hati-hati jangan pulang
malam-malam.”
“iya ma.” Ku gayuh sepedaku sekuat mungkin.
Lima
menit kemudian aku sudah sampai di taman dan teryata Vino sudah tiba duluan.
Aku parkirkan sepedaku dibawah pohon yang tak
jauh dari bangku taman yang Vino duduki. Aku menghampiri Vino. Wajah
Vino terlihat pucat hari ini.
“maaf Vin, aku terlambat. Wajah kamu kok pucat,
kamu tidak apa-apa kan?”
Vino pun menarik tanganku dan mempersilahkanku
duduk disampingnya, “ayo duduk sini ada yang ingin aku bicarakan sama kamu.”
“mungkin ini terakhir kalinya kamu ketemu sama
aku.” Sambung Vino sambil berdiri.
“hust… Enggak boeh ngomong kayak gitu. Emang kamu
mau kemana.”
“nanti malam aku harus perang melawan penyakit
yang bersarang di kepalaku ini. Aku tak tahu seberapa kuatnya aku melawannya.
Akankah aku masih bisa menikmati senja yang indah ini bersamamu lagi Kayla.”
“terus nant…………”
“nanti malam aku harus di operasi karna kangker
otakku yang semakin hari semakin parah.” Sahut Vino.
Tak
tahu kenapa air mata ini sudah mengumpul di pelupuk mata dan siap untuk jatuh.
Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi mulut ini rasanya kaku hanya air mata yang
saat ini berbicara. Vino mengusap air mataku sambil bilang “kamu enggak perlu
nangis. Sekarang aku hanya butuh doamu, semangatmu, dan senyummu yang indah itu
untuk yang terakhir kali ini saja. Karna aku belum yakin akankah aku masih
diberi kesempatan lagi sama Tuhan.”
“aku mohon padamu Kayla. Jangan kau teteskan air
matamu ini. Jika kau terus-terusan seperti itu, itu semua bakalan sia-sia karna
air matamu tak dapat menyembuhkan penyakitku ini” Sambung Vino.
Aku
mulai berfikir dan meresapi apa yang telah Vino katakana. Benar juga apa yang dikatakan
Vino. “iya vin, benar juga apa yang kamu katakan. Aku nangis sampek kapanpun ya
tetep aja enggak bisa buat ngilangin penyakit kamu.”
“nah gitu senyum. Kalau senyum gitu kan jadi
cantik hehe.”
“haha akukan cantiknya udah dari dulu. Baru
nyadar sekarng ya?”
Akhirnya
kami bersenda gurau di taman itu. Keasikan bermain bersama sampai tak terasa
kalau udah malam. Vino udah dijemput sama mamanya dan ia langsung pergi ke
rumah sakit buat operasi. Aku juga pulang karna hari sudah malam, kulihat jam
yang ada ditanganku teryata jam sudah menunjukkan pukul 18.30.
Sesampai
dirumah aku mendapatkan kabar bahwa Vino sudah tidak ada lagi. Nyawanya sudah
tidak tertolong lagi. Mendengar kabar itu rasanya kaki ini sudah tak mampu lagi
untuk berdiri akupun terjatuh. Mama memelukku dan aku menangis di pundak mama.
Sore ini menjadi hari bersejarah dalam
hidupku dan senja sore itu juga yang sudah menjadi saksi bahwa aku dan Vino pernah
bersama dalam ikatan persahabatan. Dan persahabatan ini kamu bawa mati, aku
hanya bisa mendoakanmu agar kamu tenang disana.
End..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar